DUMAI .-LENSARIAUNEWS COM./Pengacara Dumai Eko Saputra, SH., MH, CPL, Giri Suseno, S.H, dan Andre Prayoga, S.H dijatuhi sanksi peringatan biasa oleh Majelis Dewan Kehormatan Daerah (DKD) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Jambi karena terbukti melanggar Kode Etik Advokat Indonesia.

Hal tersebut, sebagaimana dalam PUTUSAN
PERKARA NOMOR: 001/PERADI/DKD/JMB/EKS/II/24 pada tanggal 31 Mei 2024 dalam sidang terbuka yang dipimpin majelis Dewan Kehormatan Daerah (DKD) Jambi Abdul Hair, S.H, Suhairi, S.H, Jumanto, S.H, Rosmeri Panggabean, S.H dan Ilhammi, S.H di Kantor Peradi Jambi Jalan Dewi Sri , Jumat (31/05).

Selain Eko Saputra, pada sidang kode etik profesi itu bersama dua pengacara berstatus sebagai teradu. Mereka merupakan rekan satu tim Eko yakni, Giri Suseno dan Andre Prayoga. Sementara, pihak pengadunya dari H. ABU BAKAR SIDIK atau yang lebih dikenal dengan nama Haji Dasar yang beralamat JI. Ratu Sima Kel. STDI, Kec. Dumai Barat, Kota Dumai – Provinsi Riau.

Terhadap pengaduan H. ABU BAKAR SIDIK (H. DASAR) Ke Dewan Kehormatan DPN Peradi yang diwakili oleh YONFEN HENDRI., selaku anak kandung dari H. ABU BAKAR SIDIK (H. DASAR) yang kemudian dilimpahkan ke Dewan Kehormatan Daerah Jambi telah diputus pada tanggal 31 Mei 2024.

“Memutuskan Menerima Pengaduan Pengadu untuk seluruhnya, Menyatakan Teradu (Eko Saputra, Giri Suseno, Andre Prayoga terbukti telah melanggar ketentuan Pasal 7 huruf (g) dan Pasal 4 huruf (b) Kode Etik Advokat Indonesia serta Pasal 26 ayat (2) Undang- undang No. 18 Tahun 2003 Tentang
Advokat. Menghukum Teradu dengan sanksi peringatan biasa terhitung sejak tanggal putusan ini berkekuatan hukum tetap. Menghukum Teradu untuk membayar biaya perkara ini sebesar Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah) dan Memerintahkan DPN PERADI untuk mengeksekusi Putusan ini segera,” Putusan ini dibuat dalam musyawarah Majelis Kehormatan pada Dewan Kehormatan Daerah PERADI Jambi tegas Yonfen Hendri selaku anak Pengadu yang telah menerima salinan putusan tersebut.

Pada putusan itu, Eko Saputra, Giri Suseno dan Andre Prayoga dijatuhi hukuman berupa Sanksi Peringatan Biasa dan menghukum untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah). Sanksi tersebut berlaku terhitung sejak putusan itu berkekuatan hukum tetap.

Duduk perkara dalam persoalan ini, bermula dari pengaduan ayah saya H. ABU BAKAR SIDIK alias H. DASAR atas Somasi yang diterima pada tanggal 9 Desember 2023 dari Kantor Hukum Eko Saputra dan associates, dimana dalam poin 5 (lima) surat somasi tersebut menuduh ayah saya bagian dari sindikat praktek mafia tanah, kami sekeluarga tidak terima ayah kami disebut sebagai bagian dari sindikat mafia tanah “mana buktinya jangan memfitnah ayah kami”. sehingga akibat permasalahan tersebut maka kami sekeluarga sepakat untuk melaporkan advokat-advokat tersebut ke Dewan Kehormatan Peradi, karena Advokat-advokat tersebut bernaung di Organisasi Advokat Peradi. ucap yonfen”;

Ayah saya, Haji Dasar pada tahun 2021 membeli tanah di jalan Gatot Subroto di Km 5 Bukit Timah dari ahli waris pemilik tanah dengan alas hak SHM loh, bukan dengan cara-cara ilegal atau bagian dari sindikat mafia tanah seperti yang dikatakan pengacara yang mensomasi ayah saya.

Atas dasar surat somasi tersebut, sehingga kami menduga para advokat-advokat tersebut tidak proporsional dan tidak profesional dalam menyusun redaksi surat somasi dan melaporkan ke dewan kehormatan DPN PERADI di Jakarta, perkara tersebut dilimpahkan DPN PERADI ke dewan kehormatan daerah PERADI Jambi dan sudah diputuskan bersalah. Ucap yonfen.

Atas putusan yang telah diputus oleh Majelis Dewan Kehormatan Daerah (DKD) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Jambi menyatakan Advokat-advokat yang bernama Eko Saputra, Giri Suseno dan Andre Prayoga telah terbukti melanggar Kode Etik Advokat Indonesia.(Ril/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *