LENSARIAUNEWS.COM/ROHIL–Kabupaten Rokan Hilir dikenal dengan kekayaan ragam budaya dan objek pariwisata. Dengan luas wilayah 8.941 km² dan jumlah penduduk mencapai 700 ribu jiwa lebih. Negri berjuluk seribu kubah ini sungguh menyimpan pesona kekayaan budaya bernilai tinggi yang masih dianut secara turun temurun.

Untuk mengembangkan wisata dan budaya di Kabupaten Rokan Hilir tentunya tidak terlepas dari peran Bupati Rokan Hilir. Dibawah tampuk kepemimpinan Bupati Afrizal Sintong dan Ibrahim mereka bertekad untuk mengembangkan pembangunan di Sektor Wisata dan Budaya.

Salah satu Budaya dan Wisata yang menarik di Negeri Seribu Kubah tersebut yaitu budaya bakar tongkang. Bakar Tongkang merupakan tradisi masyarakat Tionghoa di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.

Tradisi Bakar Tongkang merupakan acara tahunan terbesar di Kota Bagansiapiapi. Bakar Tongkang merupakan acara tahunan yang mampu menarik wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Pada saat festival diperkirakan terdapat ribuan wisatawan yang melihat tradisi tersebut.

Bakar Tongkang

Tradisi Bakar Tongkang awal mulanya dilakukan oleh imigran dari Cina, dimana mereka meninggalkan tanah airnya untuk menetap di Riau.

Bakar Tongkang berupa ritual membakar kapal (terakhir) yang digunakan untuk berlayar para imigran dari Cina, yang pada akhirnya memutuskan menetap di Riau.

Para imigran Cina pertama kali menginjakan kaki di Riau sekitar tahun 1826.

Peristiwa tersebut menjadi akar festival Bakar Tongkang.

Daerah yang didiami para imigran Cina tersebut dikenal dengan nama Bagansiapiapi.

Dipercaya, leluhur masyarakat Bagansiapiapi adalah orang-orang Tang-lang keturunan Hokkien yang berasal dari Distrik Tong’an (Tang Ua) di Xiemen, Provinsi Fujian, Cina Selatan.

Setiap tahun Festival Bakar Tongkang selalu diikuti oleh berbagai tingkatan usia. Mereka berbaris dari depan kelenteng hingga memanjang seratusan meter. Badan jalan sesak oleh warga Tionghoa yang melakukan ritual.

Setiap kelompok juga menenteng sejumlah peralatan ibadah yang mereka panggul. Berbagai hiasan alat Tiongkok meramaikan festival ini. Setelah memanjang sekitar 200 meter, barulah muncul tongkang alias kapal replika dengan panjang sekitar 8 meter lebar 2 meter. Kapal itu dihiasi tiang layar dengan kontruksi dari kayu. Dinding kapal tongkang ini hanya dilapisi kertas berwana warni.

Tongkang inilah yang di pinggul oleh sekelompok pria. Dari depan kelenteng tongkang ini diarak bersama-sama. Lebih dari 100 meter lagi warga mengiringinya dari belakang.

Mereka ini menuju ke lokasi tempat pembakaran tongkang yang mesti berjalan kaki sepanjang 2 km. Seluruh peserta membawa hio yang telah dibakar ujungnya. Bisa dibayangkan bagaimana sesaknya napas akibat asap Hio yang terus menyala sampai ke lokasi yang memakan waktu hampir 1 jam.

Tak hanya itu saja, mata juga rawan terkena debu hio sepanjang jalan. Namun demikian, seluruh peserta tetap hikmat mengikuti prosesi pembakaran tongkang ini.

Sepanjang jalan yang dilalui peserta, warga Tionghoa lainnya sudah menyedikan berbagai jenis minuman kaleng yang dingin. Minuman dibagikan secara gratis ke seluruh peserta yang jumlahnya ribuan orang. Berbagai sumbangan minuman di terima para peserta karena mereka berjalan di suasana yang cukup panas di bawah teriknya matahari.

Setelah berjalan beriringan, akhirnya mereka sampai di lokasi dipercayai dulunya tempat awal kapal warga Tionghoa pertama kali mendarat dan dibakar bersama agar tidak kembali ke kampung halaman di Fujian, China.

Di lokasi ini, jutaan tumpukan kertas bertuliskan China sudah lebih dulu dikumpulkan. Di atas tumpukan kertas itulah, kapal tongkang replika yang diarak tadi diletakan. Sebelum dilakukan pembakaran, maka sejumlah pejabat pemerintah diundang ke atas.

Bupati Rokan Hilir Afrizal Sintong memberikan apresiasi kepada warga Tionghoa atas pelaksanaan event ritual bakar tongkang yang digelar setiap tahun tersebut.

Dijelaskan Bupati, bahwa ritual bakar tongkang merupakan event wisata terbesar yang banyak mendatangkan jumlah kunjungan wisata baik mancanegara maupun domestik dan sudah masuk dalam kalender event wisata nasional di kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif republik Indonesia.

Sejarah ritual bakar tongkang yang kita laksanakan, yaitu bahwa bakar tongkang merupakan suatu tradisi ritual yang berkaitan erat dengan kesejarahan kota Bagansiapiapi terutama awal mula kedatangan para pemukim Tionghoa di muara Rokan tepatnya di kota Bagansiapiapi.

Bupati juga menceritakan bahwa, dapat dikatakan ritual bakar tongkang merupakan tradisi etnis Tionghoa berupa persembahan untuk Dewi Kie Ong ya (dewi laut) dan dewa Tai Su dalam kepercayaan leluhur orang Tionghoa dewa laut merantau dan tiba di kota Bagansiapiapi menggunakan perahu yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan tongkang.

“Untuk menghormati dewa laut di mana orang Tionghoa percaya membawa rezeki digelarlah sembahyang tongkang,” paparnya.

Selain itu katanya lagi, terdapat pula kisah yang berkaitan dengan ritual bakar tongkang yaitu ketika orang-orang Tionghoa generasi awal mulai bermukim di Bagansiapiapi. Mereka memutuskan untuk tidak kembali ke Tiongkok maka tongkang yang semula digunakan untuk membawa mereka pun dibakar tidak tradisi inilah yang dipertahankan hingga saat ini.

Dengan pelaksanaan ritual bakar tongkang itu, Bupati juga meminta kepada seluruh masyarakat Rohil agar senantiasa menjaga persatuan antar etnis, suku maupun agama.

“Mari saling menjaga toleransi antar etnis suku maupun agama, ayo bersatu dalam perbedaan,” pungkas Bupati.*(Adv/Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *